Garut Trending Topic, Ini Dua Peristiwa yang Jadi Pemicunya

Selamat Datang Garut

PILARTIMES.COM — Nama Kabupaten Garut, Jawa Barat, menjadi topik populer di Twitter di Hari Raya Idul Adha, Jumat (31/7/2020). Garut bahkan sempat memuncaki trending topic di Indonesia.

Banyak warganet di Twitter menduga hal ini terkait “Domba Garut” yang banyak dikurbankan atau karena cuaca sangat dingin di kawasan Garut.

Namun, dari sisi isu, setidaknya dua dua peristiwa yang menjadi “headline” di media, yakni Polisi Ancam Tembak Para Guru di Garut dan Guru di Garut Disebut Terima Gaji Buta Selama Pandemi Corona. Keduanya peristiwa ini saling terkait.

Pada kejadian pertama, sejumlah video detik-detik seorang anggota polisi dari Polres Garut mengancam menembak massa beredar melalui perpesan WhatsApp (WA). Ancaman tersebut ditujukan kepada kerumunan massa para guru di depan Gedung Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Garut.

Baca Juga

“Anjing saya tembak kamu,” begitulah ucapan yang terdengar keras dari oknum perwira polisi, Selasa 28 Juli 2020 sore.

Peristiwa tersebut berawal dari munculnya kasus penghinaan guru oleh warga Garut yang berinisial DI melalui media sosial Facebook. Postingan kalimat bernada hinaan kepada profesi guru tersebut memancing emosi para guru.

Untuk menyelesaikan persoalan tersebut dilakukan mediasi antara DI dan para pengurus PGRI di gedung PGRI Garut. Saat DI akan menuju kendaraan, massa yang masih emosi berusaha mengejar DI hingga masuk kendaraan yang disiapkan Polres Garut.

Oknum perwira polisi yang terlihat sudah masuk di bagian depan kendaraan roda empat, tampak keluar sambil menunjuk dan mengeluarkan kata-kata kasar mengancam akan menembak.

Sebelumnya, status pemilik akun Facebook Dede Iskandar (DI) membuat geram para guru di Kabupaten Garut. Pasalnya, dalam statusnya itu, Dede menyebut para guru hanya menerima gaji buta akibat sekolah terus diliburkan selama pandemi corona.

“Nagara ngagajih buta ieu mah hayoh we sakola di liburkeun, kudunamah guru nage ulah di gajih meh karasaeun sarua kalaparan (negara kasih gaji buta, terus saja sekolah diliburkan, harusnya guru juga jangan digaji supaya ikut merasakan kelaparan),” tulis Dede.

Salah satu guru SMP di Garut, Asep Sopian, merasa tak terima dan menganggap tudingan Dede tak berdasar.

“Padahal, kami ini masih memberi pelajaran secara daring ke anak-anak. Kata siapa gaji buta, dia tidak merasakan sulitnya bikin materi daring,” kata Asep.

Meski pemilik akun tersebut bersedia minta maaf, pihak Asep tetap melaporkan Dede ke polisi agar ada efek jera.

“Kalau dia minta maaf, pasti kami sampaikan. Tapi, permintaan maaf tak akan menghentikan proses hukum. Kami akan tetap melaporkan soal unggahannya itu sebagai efek jera,” ujar Asep.

Ketua PGRI Kabupaten Garut Mahdar Suhendar kepada wartawan mengungkapkan, yang bersangkutan sudah meminta maaf atas unggahannya tersebut.

Namun demikian, lanjut dia, para guru tetap tidak terima karena unggahan itu dianggap telah menghina mereka. Oleh karena itu, para guru mendesak agar kasus tersebut tetap dapat diproses secara hukum.

“Dia (pemilik akun Facebook) sudah meminta maaf, tapi tetap para guru mau (Dede) diproses secara hukum,” katanya. (PT)

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *