Jihad Paling Besar dan Utama menurut Islam

jihad

JIHAD adalah usaha dengan segala daya upaya untuk mencapai kebaikan, usaha sungguh-sungguh membela agama Islam dengan mengorbankan harta benda, jiwa, dan raga. Jihad juga merupakan perang suci melawan orang kafir untuk mempertahankan agama Islam (KBBI).

Dalam Islam, membela kebenaran, dakwah, menegakkan keadilan, membela kaum lemah, bekerja untuk menafkahi diri dan kelurga, serta belajar (menuntut ilmu) juga termasuk jihad.

اَلْـجِهَادُ وَالْمُجَاهَدَةُ: اِسْتِفْرَاغُ الْوُسْعِ فِـيْ مُدَافَعَةِ الْعَدُوِّ

“Jihad artinya mencurahkan segala kemampuan untuk memerangi musuh.”

Dalam Al-Qur’an disebutkan kewajiban jihad bagi kaum muslim:

 وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ 

“Dan berberjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya” (QS Al-Hajj/22 : 78)

Jihad Melawan Hawa Nafsu

Jihad paling utama dalam Islam adalah melawan diri sendiri dan hawa nafsunya, sebagaimana hadits Nabi Muhammd Saw:

 أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ

“Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad [berjuang] melawan dirinya dan hawa nafsunya)” (HR Ibnu An-Najjar, Abu Nu’aim, dan Ad-Dailami)

Syaikh ‘Abdur-Razaq bin Abdul-Muhsin Al-Badr berkata, ”Jika kaum Muslimin melalaikan jihad melawan diri sendiri, mereka tidak akan mampu jihad melawan musuh-musuh mereka, sehingga dengan sebab itu terjadi kemenangan musuh terhadap mereka”.

Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Bilamana orang-orang kafir menang (atas umat Islam), maka tidak lain, sesungguhnya hal itu dikarenakan dosa-dosa kaum Muslimin yang menyebabkan iman mereka berkurang”.

Selain hadits shahih di atas, ada juga perkataan Ibrahim bin Abi ‘Abalah di dalam kitab Al-Kuna karya An-Nasâ-i’ yang sering dianggap hadits:

 رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الْأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ

“Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad yang besar”.

Mulla ‘Ali Al-Qari menyebutkannya di dalam Al-Asrâr Al-Marfû’ah. Ia menjelaskan “Al-‘Asqalani mengatakan di dalam Tasdîdun-Nufûs, ’Perkataan ini masyhur di kalangan manusia, dan ini merupakan perkataan Ibrahim bin Abi ‘Abalah di dalam kitab Al-Kuna karya An-Nasâ-i’.”

Hadits di atas disebutkan di dalam kitab Ihya` ‘Ulumuddin. Al-‘Iraqi menyatakan, hadits ini riwayat Al-Baihaqi  dari Jabir dan sanad ini ada kelemahan’.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albâni t menyebutkan hadits ini di dalam kitab Silsilah Al-Ahâdits Adh-Dha’îfah dan ia mengatakan hadits ini “mungkar”.

Syaikh Al-Albani menjelaskan secara panjang lebar sisi kelemahan hadits ini. Ia juga menukil perkataan Al-Hafizh Ibnu Hajar t di dalam takhrij kitab Al-Kasysyaf, bahwa An-Nasa-i di dalam kitab Al-Kuna meriwayatkannya sebagai perkataan Ibrahim bin Abi ‘Abalah, seorang tabi’i dari penduduk Syam.

Syaikh Al-Albani mengakhiri penjelasannya dengan menukil perkataan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah tentang hadits ini: “Tidak ada asalnya. Tidak ada seorang pun dari manusia yang mengetahui perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan Nabi Saw yang meriwayatkannya. Dan jihad melawan orang-orang kafir termasuk sebesar-besar amalan, bahkan hal itu merupakan amalan tathawwu’ terbesar yang dilakukan manusia”.

Jihad melawan orang-orang kafir termasuk amalan yang paling utama, tetapi hal ini tidak mungkin dilakukan, kecuali setelah jihad melawan nafsunya.

Jihad Mengatakan Kebenaran

Dalam hadits lain disebutkan, menasihati penguasa yang zalim dengan berani mengatakan kebenaran termasuk jihad, bahkan semulia-mulianya jihad.

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang baik) di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah).

Abu Daud Sulaiman bin Al Asy’ats As Sajistani membawakan hadits ini dalam kitab sunannya pada Bab “Al Amru wan Nahyu”, yaitu mengajak pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran.

Abu ‘Isa At Tirmidzi membawakan hadits di atas dalam Bab “Mengingkari kemungkaran dengan tangan, lisan atau hati”.

Muhammad bin Yazid Ibnu Majah Al Qozwini membawakan hadits di atas dalam Bab “Memerintahkan pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran.”

Begitu pula Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin membawakan hadits ini dalam Bab “Memerintahkan pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran”, beliau sebutkan hadits ini pada urutan no. 194 dari kitab tersebut.

Mengajak pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran termasuk jihad. Menasehati pemimpin yang zalim termasuk jihad.

Sebaliknya, berkata yang tidak benar di hadapan penguasa yang adil, dalam rangka ingin “menjilat” penguasa atau karena urusan dunia, maka ini teramat bahaya. Penguasa tersebut bisa jadi tertipu dengan pujian tersebut. (Sumber: Almanhaj, Rumaisyo).*

jihad melawan nafsu

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *