Kasus Syekh Jaber Trendingkan Darah Ulama Beracun, Halusinasi, dan Orang Gila

Darah Ulama Beracun

PILARTIMES.COMPenyerangan terhadap Syekh Ali Jaber pada Minggu (13/9/2020) masih menjadi topik hangat di media sosial Twitter, Senin (14/9/2020) malam.

Tagar #DarahUlamaBeracun menjadi trending topic selain “Halusinasi” dan “Orang Gila”. Halusinasi mengacu pada pengakuan pelaku yang dinilai tidak masuk akal. Demikian pula trending topic Orang Gila.

Darah Ulama Beracun?

“Darah ulama beracun” adalah ungkapan yang mengisyaratkan kemuliaan ulama sang pewaris para nabi. Kaum muslim diingatkan agar tidak merendahkan, mengejek, menghina, apalagi melukai para ulama.

Kata ulama’ adalah bentuk jamak dari ‘alim yang berarti “orang yang berpengetahuan, ahli ilmu, atau ilmuwan”.

Baca Juga

Dalam pandangan Islam, ulama memiliki kedudukan yang tinggi. Al-Qur’an Surah az-Zumar ayat sembilan menunjukkan, Allah SWT mengisyaratkan tidak sama antara orang musyrik dan orang yang taat beribadah–lantaran takut dan penuh harapan pada Sang Pencipta.

Ayat yang sama juga ditutup dengan pertanyaan retoris (terjemahannya):

“Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui (ya’lamuuna) dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakal-lah yang dapat menerima pelajaran.”

Salah satu ulama termasyhur dalam era klasik, Ibnu Asakir, pernah mengingatkan orang-orang agar berhati-hati dalam menjaga lisan dan perbuatan. Jangan sampai menghina, menjelek-jelekkan, atau menyakiti hati dan perasaan ulama. Sebab, kedudukan ulama berbeda daripada orang biasa, termasuk sekalipun penguasa.

“Saudaraku, ketahuilah bahwa daging para ulama itu beracun,” kata pakar hadits sekaligus sejarawan dari Damaskus (Suriah) itu, seperti dikutip Islam Digest Republika dari buku Tasawuf dan Ihsan.

Apa artinya “daging ulama beracun”?

Maksudnya, siapa pun yang telah memfitnah mereka, pasti akan terkena nasib buruk; bagaikan tubuh terkena racun.

Al-Qur’an Surah al-Hujurat ayat 12 mengibaratkan perbuatan menggunjing atau mencari-cari keburukan orang lain sebagai “memakan daging saudara sendiri yang telah mati.”

Maka, menjelek-jelekkan ulama di depan umum tentunya lebih parah. Tidak hanya diibaratkan sebagai orang yang menjijikkan (memakan bangkai), tetapi juga kelak menerima sakit akibat perbuatannya itu.

“Dan kita telah mengetahui sikap Allah terhadap orang-orang yang mencela para ulama. Maka, siapa saja yang menghina para ulama dengan lidahnya, Allah akan menimpakan kematian hati kepadanya selagi dia di dunia,” jelas Ibnu Asakir.

Dalam Alquran surah al-Ahzab ayat 57, dijelaskan tentang ancaman dari bagi orang-orang yang menyakiti Rasulullah SAW.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.”

Saat ini, ketika Rasulullah SAW sudah tidak ada lagi di tengah-tengah umat, tentu para alim ulama berperan sebagai “penyambung lidah” beliau. Para ulama menerima warisan dari beliau, yaitu ilmu-ilmu agama.

Menyakiti ahli waris sama saja dengan menyakiti orang atau pihak yang mewariskan. Maka, sudah sepatutnya menjaga lisan dan tangan yakni dengan menghormati dan mencintai alim ulama. (PT)

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *