Kisah Humor Tiga Polisi Jujur dan Profil Jenderal Hoegeng

Jenderal Hoegeng
Jenderal Hoegeng (Foto: Wikipedia)

PILARTIMES.COM — Seorang pria di Sula, Maluku Utara, bernama Ismail Ahmad, dijemput oleh anggota Satuan Intelijen Polres Sula untuk dimintai keterangan (klarifikasi) karena menuliskan lelucon dari Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di akun media sosialnya.

Lelucon Gus Dur yang diunggah itu tentang polisi jujur: “Polisi yang baik itu cuma tiga. Pak Hugeng almarhum bekas Kapolri, patung polisi, dan polisi tidur.”

Isu ‘penangkapan’ tersebut menjadi perbincangan di media sosial. Di Twitter tagar #IndonesiaDaruatHumor jadi trending topic.

Polres Sula kemudian meluruskan isu itu. Ditegaskan, tak ada penangkapan. Ismail Ahmad hanya diklarifikasi.

“Bukan penangkapan, kita cuma klarifikasi aja apa motif dia, mens rea dia, gitu. Bukan ditangkap. Cuma klarifikasi aja,” kata Kapolres Kepulauan Sula AKBP Muhammad Irvan dikutip detik.com, Rabu (17/6/2020).

Ismail sudah diklarifikasi dan dipulangkan pada Selasa (16/6/2020). Irvan menjelaskan Gus Dur mengeluarkan kutipan atau lelucon itu agar Polri lebih baik lagi.

Polri juga memastikan tidak ada proses hukum terkait pemanggilan terhadap Ismail.

“Tidak ada BAP, tidak ada kasus,” kata Kepala DIvisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono dalam keterangannya dikutip cnnindonesia.com, Jumat (19/6/2020).

Diungkapkan Argo, Polda Maluku Utara telah menegur anggota Polres Kabupaten Sula terkait hal tersebut.

Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polres Kabupaten Sula juga diminta untuk lebih teliti dalam mengamati informasi di media sosial.

Argo menegaskan pemanggilan terhadap Ismail hanya untuk dimintai klarifikasi terkait unggahannya di media sosial.

“Penafsiran anggota reserse ini seolah-olah ada sesuatu antara dia (Ismail) dan institusi kemudian dipanggil dan diklarifikasi,” ucap Argo.

Sejarah Lelucon Tiga Polisi Jujur

Candaan itu sudah banyak disampaikan dan dimuat di buku-buku tentang Gus Dur, di antaranya di buku Mati Tertawa Bareng Gus Dur karya Bahrudin Achmad, Koleksi Humor Gus Dur karya Guntur Wiguna, Tertawa Ala Gus Dur, Humor Sang Kyai karya Imron Nawawi, dan buku-buku lainnya.

Namun, tidak semua buku menjelaskan perihal konteks munculnya lelucon tentang polisi jujur ini.

Buku karya Muhammad Zikra berjudul Tertawa Bersama Gus Dur: Humornya Kiai Indonesia, menjadi salah satu buku yang menerangkan konteks munculnya lelucon ini.

Disebutkan, Gus Dur sedang ngobrol-ngobrol santai dengan para wartawan di rumahnya, Jalan Warung Silah, Ciganjur, Jakarta Selatan. Keluarlah lelucon soal tiga polisi jujur itu.

“Lelucon yang sebenarnya juga kritikan itu dilontarkan untuk menjawab pertanyaan wartawan perihal moralitas polisi yang kian banyak dipertanyakan,” tulis Muhammad Zikra di halaman 20 buku itu.

Lalu Gus Dur menjawab pertanyaan wartawan seraya berseloroh, “Polisi yang baik itu cuma tiga. Pak Hugeng almarhum bekas Kapolri, patung polisi, dan polisi tidur.”

Buku dari mantan Menteri Riset dan Teknologi, Muhammad AS Hikam, berjudul ‘Gus Durku , Gus Dur Anda, Gus Dur Kita’ juga menjelaskan perihal konteks munculnya lelucon ini.

Tito Karnavian saat menjadi Kapolri menilai humor Gus Dur itu untuk memotivasi Polri agar menjadi lembaga yang jujur dan adil.

“Ucapan beliau itu menjadi cambukan bagi kami agar Polri sebagai institusi yang lebih baik,” katanya.

Profil Hoegeng

Siapa Hoegeng yang namanya disebut Gus Dur?

Dia adalah Jenderal Polisi Hoegeng Imam Santoso. Pria kelahiran Pekalongan ini dikenal sebagai sosok teladan, khususnya di kalangan aparat kepolisian.

Ia berhasil menunjukkan moralitas polisi yang jujur dan anti-suap. Karakter Hoegeng inilah yang menjadikan namanya besar sampai sekarang.

Dikutip suara.com, dari berbagai sumber, beragam kisah menarik muncul dari perjalanan hidup Jenderal Hoegeng.

Sejak kecil, pria kelahiran 14 Oktober 1921 tersebut dikenal sebagai pria yang beruntung.

Ia dapat menempuh pendidikan formal bentukan Belanda sebelum kemerdekaan. Tercatat, ia pernah bersekolah di HIS, lalu MULO dan AMS Westers Klasiek. Setelah merampungkan pendidikan menengah, ia pun melanjutkan ke Recht Hoge Schoool Batavia dengan jurusan ilmu hukum.

Pada masa kependudukan Jepang, Jenderal Hoegeng mendapat latihan kemiliteran dan berhasil melanjutkan karier sebagai polisi. Bahkan lantaran karakternya yang tegas, jujur dan berintegritas, ia kemudian diangkat menjadi Kepala Kepolisian Republik Indonesia pada 1968 – 1971.

Sebagai pihak berwajib, Jenderal Hoegeng kerap menangani kasus-kasus berat yang mengguncang negara.

Salah satunya yang populer yakni tentang kasus Sum Kuning, penjual telur ayam asal Godean, Yogyakarta, yang diduga diperkosa oleh anak pejabat.

Jenderal Hoegeng disebut mati-matian berusaha membongkar kasus yang menyeret elite tersebut.

Bahkan, ia sengaja membentuk tim khusus yang bertugas mengusut tuntas kasus Sum Kuning. Namun perjuangannya berakhir pahit lantaran Jenderal Hoegeng tak kuasa melawan penguasa yang menyembunyikan kebenaran di balik kasus tersebut.

Selain kasus itu, Hoegeng juga menunjukkan integritasnya ketika menangani kasus penyelundupan mobil mewah. Ia bergeming, tak menerima suap dan menolak segala godaan dari perempuan yang terlibat dalam kasus tersebut.

Cerita menarik lainnya dari Jenderal Hoegeng yakni ketika dirinya tak segan turun ke jalan untuk mengatur lalu lintas saat terjadi macet.

Meski menjabat sebagai Kapolri, pria yang juga dikenal mahir memainkan alat musik ukulele tersebut mengaku hal itu merupakan tanggung jawabnya.

Jenderal Hoegeng juga dikenal sebagai pencentus gagasan kewajiban memakai helm bagi pengendara sepeda motor.

Ide tersebut dilatarbelakangi oleh keprihatinan Hoegeng melihat tingginya angka kecelakaan lalu lintas di tahun 1970-an.

Dalam sebuah sumber disebutkan, selain jujur dan tegas, Jenderal Hoegeng juga merupakan pria yang sederhana. Semasa hidup, ia tinggal di rumah kecil dan tidak memiliki kendaraan pribadi.

Ia juga rela menerima gaji kecil selepas pensiun dari polisi. Karakter tersebut dikenang publik sampai sekarang.

Jenderal Hoegeng dipensiunkan dini dari jabatannya sebagai Kapolri pada 1971.

Pencopotan ini dilakukan sebelum masa jabatan Hoegeng berakhir. Santer diisukan, keputusan tersebut ada kaitannya dengan kasus dugaan penyelundupan mobil mewah yang ditangani oleh Hoegeng.

Jenderal Hoegeng wafat pada 14 Juli 2004 setelah menjalani perawatan di RSCM, Jakarta Pusat karena menderita stroke.

Sebelum tutup usia, Hoegeng sempat berpesan dirinya enggan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Mendiang dikebumikan di pemakaman umum Giri Tama, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.*

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *