Kritik Pedas Kampus di Grup WA, Dosen Unsyiah Divonis 3 Bulan Penjara

Kampus Unsyiah Aceh
Kampus Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh (unsyiah.ac.id)

PILARTIMES.COM, ACEH — Hanya karena menkritik pedas kebijakan kampusnya di Grup WhatsApp (WAG), seorang dosen di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh divonis penjara 3 bulan.

Pihak Amnesty International Indonesia menilai kriminalisasi dosen tersebut merupakan bentuk pelanggaran kebebasan akademis. Kritik dalam kampus dinilai tidak dapat disamakan dengan tindakan kriminal atau pelanggaran hukum.

Diberitakan Kompas, doden bernama Saiful Mahdi divonis 3 bulan penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh, Selasa (21/4/2020), karena terbukti melanggar UU ITE dengan tuduhan melakukan pencemaran nama baik.

Menurut Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, vonis penjara tersebut merupakan bentuk pelanggaran kebebasan akademis.

Syaiful dinyatakan bersalah melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) karena mengkritisi hasil tes calon pegawai negeri sipil (CPNS) untuk dosen Fakultas Teknik pada akhir 2018 di Unsyiah.

“Saya kira untuk melihat kasus Bung Saiful adalah pelanggaran kebebasan akademik itu juga di dalamnya termasuk kebebasan berekspresi,” kata Usman dalam sebuah media briefing, Selasa (25/8/2020).

“Kritik terkait rekrutmen PNS dengan respons dari kampus yang kemudian mempidanakan itu memperlihatkan bahwa kebebasan akademik di Indonesia ada yang salah,” tegasnya.

Usman mengatakan, tidak semua permasalahan di kampus dapat diproses dengan hukum pidana. Selain itu, kritik dalam kampus tidak dapat disamakan dengan tindakan kriminal atau pelanggaran hukum.

“Dalam kasus-kasus tertentu bisa saja ini berakhir dengan pemecatan, sanksi. Tapi dalam kasus ini seolah urusan kebebasan akademik di kampus itu menjadi urusan kriminal,” tutur Usman.

Kasus tersebut menurut Usman juga akan berdampak pada kondisi kampus. Akibatnya, dosen yang menjalani proses hukum tidak bisa bekerja secara maksimal.

Saiful Mahdi dilaporkan ke polisi oleh teman sejawatnya, Dekan Fakultas Teknik Unsyiah, Taufiq Mahdi, yang merasa malu dan merasa nama baiknya dicemarkan oleh Saiful di dalam sebuah grup WhatsApp.

Berikut ini kata-kata di grup WhatsApp Unsyiah Kita pada 25 Februari 2019:

“Innalillahiwainnailaihirajiun. Dapat kabar duka matinya akal sehat dalam jajaran pimpinan FT Unsyiah saat tes PNS kemarin. Bukti determinisme teknik itu sangat mudah dikorup? Gong Xi Fat Cai!!! Kenapa ada fakultas yang pernah berjaya kemudian memble? Kenapa ada fakultas baru begitu membanggakan? Karena meritokrasi berlaku sejak rekrutmen hanya pada medioker atau yang terjerat “hutang” yang takut meritokrasi”.

Hakim menilai terdakwa bersikap kooperatif dalam persidangan dan belum pernah dihukum. Hal yang memberatkan, terdakwa dinilai telah mencemarkan nama baik Fakultas Teknik Unsyiah.

Saiful Mahdi dan kuasa hukumnya dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh langsung menyatakan banding atas vonis yang dijatuhkan.*

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *