Matahari di atas Ka’bah, Saatnya Koreksi Arah Kiblat Shalat

Matahari di Atas Ka'bah
Ilustrasi Matahari di atas Ka’bah (Foto: mukaalma.com)

PILARTIMES.COM, JAKARTA — Matahari akan berasa di atas Ka’bah selama dua hari, Rabu dan Kamis, 15-16 Juli 2020. Peristiwa ini menjadi momentum bagi umat Islam untuk mengoreksi arah kiblat shalat.

Dirilis laman resmi BMKG, Selasa (14/7/2020), dalam setahun, matahari akan bergerak semu dari posisi 23,5o Lintang Selatan (LS) ke 23,5o Lintang Utara (LU) dan sebaliknya.

Akibat gerak semu ini, pada tanggal tertentu matahari akan tepat berada di atas suatu bangunan atau kota yang posisinya berada di antara 23,5o Lintang Selatan ke 23,5o LU.

Contoh hal ini adalah saat Matahari tepat berada di atas Ka’bah, yang merupakan arah pusat kiblat bagi umat Islam.

Mengingat posisi Ka’bah berada di 21o 25’ 21” LU dan 39o 49’ 34” BT, dalam setahun matahari akan tepat berada di atas Ka’bah sebanyak dua kali.

Baca Juga

Pada 2020 ini, yang merupakan tahun kabisat, kedua tanggal itu adalah 27 Mei pukul 12.18 Waktu Arab Saudi atau pukul 16.18 WIB atau pukul 17.18 WITA atau pukul 18.18 WIT. Waktu toleransinya adalah pada tanggal 26 s.d. 28 Mei.

Yang kedua 15 Juli 2020 pukul 12.27 Waktu Arab Saudi atau pukul 16.27 WIB atau pukul 17.27 WITA atau pukul 18.27 WIT. Waktu toleransinya adalah pada tanggal 14 s.d. 16 Juli 2020.

“Pada waktu-waktu tersebut, umat Islam dapat melakukan kalibrasi arah kiblatnya,” jelas BMKG.

Matahari di Atas Ka'bah - Arah Kiblat
Matahari di Atas Ka’bah – Arah Kiblat

BMKB juga memberikan panduan proses kalibrasinya sebagai berikut:

1. Sesuaikan jam yang akan digunakan untuk kalibrasi arah kiblat ini dengan jam atom bmkg di http://jam.bmkg.go.id atau http://ntp.bmkg.go.id.

2. Gunakan alat yang dapat dijadikan tegak lurus pada tanah yang datar untuk kalibrasi arah kiblat ini. Alat ini bisa berupa bandul yang digantung atau tiang pancang atau dinding bangunan yang benar-benar tegak lurus terhadap tanah yang datar.

3. Lakukan proses kalibrasi sejak 5 menit sebelum waktu yang ditentukan di atas hingga 5 menit sesudahnya, dengan puncak kalibrasi pada waktu-waktu di atas.

4. Perhatikan arah bayangan yang terjadi pada alat yang digunakan untuk kalibrasi arah kiblat ini.

5. Tarik garis dari ujung bayangan hingga ke posisi alat. Garis yang ditarik itulah arah kiblat yang sudah dikalibrasi dengan posisi Matahari saat tepat berada di atas Ka’bah.

“Sebagaimana kita lihat, waktu kalibrasi arah kiblat tersebut terjadi pada saat Matahari sudah terbenam
di wilayah Indonesia Timur dan sebagian Indonesia Tengah,” terang BMKG.

“Karena itu, bagi umat Islam yang berada di wilayah Indonesia Timur dan sebagian Indonesia Tengah, perlu dilakukan kalibrasi arah kiblat di selain kedua waktu tersebut. Hal ini dapat dilakukan saat Matahari tepat berada di atas wilayah yang merupakan antipodal Ka’bah, yaitu di 21o 25’ 21” LS dan 140o 10’ 26” BB.”

Matahari akan tepat berada di atas antipodal Ka’bah ini pada:

1. 14 Januari pukul 00.29 Waktu Arab Saudi atau pukul 04.29 WIB atau pukul 05.29 WITA atau pukul 06.29 WIT. Waktu toleransinya adalah pada tanggal 13 s.d. 15 Januari.

2. 28 November pukul 00.09 Waktu Arab Saudi atau pukul 04.09 WIB atau pukul 05.09 WITA atau pukul 06.09 WIT. Waktu toleransinya adalah pada tanggal 27 November s.d. 29 November.

Proses kalibrasi yang dilakukan sama sebagaimana diuarakan di atas, terkecuali bagian no 5 diubah menjadi menarik garis dari posisi alat ke ujung bayangan.

Garis tersebut adalah arah kiblat yang sudah dikalibrasi dengan posisi Matahari saat tepat berada di atas antipodal Ka’bah.

“Peringatan: Jangan melihat Matahari secara langsung tanpa menggunakan penapis cahaya karena sangat berbahaya bagi mata!” BMKG mengingatkan.

Istiwa A’dham

Menurut Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais Binsyar) Agus Salim, posisi matahari di atas Kabah itu berlangsung dua hari, Rabu-Kamis 15-16 Juli 2020, sehingga menjadi kesempatan untuk mengoreksi arah kiblat shalat.

“Saat itu, bayang-bayang benda yang berdiri tegak lurus, di mana saja, akan mengarah lurus ke Ka’bah,” kata Agus dikutip Antara, Selasa (14/7/2020).

Dia mengatakan matahari nanti akan ada di atas Ka’bah pada pukul 16.27 WIB di masing-masing hari. Secara tanggal dan waktu, fenomena alam serupa sama dengan peristiwa pada tahun 2018.

Dikatakannya, peristiwa semacam itu dikenal sebagai “Istiwa A’dham” atau “Rashdul Qiblah”, yaitu waktu matahari di atas Ka’bah dengan bayangan benda yang terkena sinar matahari menunjuk arah kiblat.

“Peristiwa yang sama terjadi juga pada 27 dan 28 Mei 2020 yang lalu,” katanya.

Momentum tersebut, kata Agus, dapat digunakan umat Islam untuk memverifikasi kembali arah kiblat. Caranya dengan menyesuaikan arah kiblat dengan arah bayang-bayang benda pada saat “Rashdul Qiblah”.

Agus mengatakan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses verifikasi arah kiblat, yaitu memastikan benda yang menjadi patokan harus benar-benar berdiri tegak lurus, seperti menggunakan bantuan lot/bandul.

“Permukaan dasar harus betul-betul datar dan rata serta jam pengukuran harus disesuaikan dengan BMKG, RRI atau Telkom,” katanya. (JT).*

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *