Pengertian Khilafah yang Sering Trending di Twitter

Khilafah
Ilustrasi Khilafah Islamiyah (Foto: Pinterest)

PILARTIMES.COM — Tagar#MasihKhilafah menjadi salah satu topik populer (trending topic) di Twitter Indonesia, Senin (20/7/2020). Apa pengertian khilafah?

Pantauan pilartimes.com, hingga pukul 11.00 WIB sudah lebih dari 13.3 Tweets dengan hashtag tersebut. Isinya beragam.

“Pedagang yang jujur dan terpercaya akan dibangkitkan bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan para syuhada (HR Tirmidzi),” tulis akun @FatihAlAyyubi1.

“Sesungguhnya apabila badan sakit, maka makan, minum, tidur & istirahat tidak enak baginya. Begitu juga dengan hati, apabila ia cenderung kepada dunia, maka nasihat-nasihat tidak lagi berguna baginya.” (Shifatush Shafwah : 3/278),” kutip pemilik akun @HasbialArifin.

Di Indonesia, khilafah dipopulerkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sudah dilarang pemerintah. Gagasan khilafah dinilai tidak selaras dengan Pancasila dan NKRI.

Pengertian Khilafah

Khilafah adalah sistem pemerintahan dunia (world government) yang dipimpin seorang khalifah. Dari kata khalifah ini pula munculnya istilah khilafah.

Secara bahasa, khalifah artinya “pengganti”. Dalam konteks sejarah Islam, pengganti yang dimaksud adalah penganti Nabi Muhammad Saw dalam hal kepemimpinan umat Islam.

Karenanya, khalifah sering juga disebut amirul mukminin (pemimpin orang-orang beriman) atau pemimpin kaum muslim di seluruh dunia.

Khalifah pasca-kepemimpinan Rasulullah Muhammad Saw dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin atau Al-Khilafah Al-Rasyidah, yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Pasca-Khulafaur Rasyidin, muncul khilafah yang dipimpin Muawwiyah bin Abi Sufyan (661-750M) yang mendirikan Dinasti Umayyah. Muawwiyah memindahkan ibu kota khilafah Islam dari Madinah ke Damaskus (Suriah).

Setelah era Khilafah Bani Umayyah, muncul Dinasti Abbasiyah (750-1258 M), Dinasti Fatimiyah (969-1171 M), Dinasti Seljuk(1055-1157 M), dan terakhir Khilafah Bani Utsmaniyah (1281-1924 M) –juga dikenal dengan sebutan atau Dinasti Turki Usmani (Ottoman Turki).

Khilafah Utsmaniyah berakhir ketika Turki dipimpin Gazi Mustafa Kemal Paşa alias Mustafa Kemal Atatürk (1881 – 1938 M), seorang perwira militer yang memimpin revolusi “sekularisasi” Turki dari khilafah menjadi negara republik.

Melalui Majelis Nasional Agung, Kemal Pasha menghapus kekhalifahan tahun 1924 dan mengubah Turki menjadi negara “demokrasi” dengan nama Republik Turki. Tamatlah riwayat Khilafah Islam.

Khilafah dalam Al-Quran

Merujuk Konkordansi Al-Qur’an (Ali Audah, Pustaka Litera, 1991), istilah atau lafazh khalifah disebut dua kali dalam Al-Quran.

Namun, tidak satu pun istilah khilafah ditemukan dalam kitab yang menjadi sumber utama syariat Islam ini. Dalam Al-Quran hanya ada istilah yang mendekati khilafah, yakni khilafa dan khilafin (hlm 363-364).

Kata khalifah disebut dalam surah al-Baqarah: 30 dan surah Shad: 26.

QS al-Baqarah:30

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah (pengganti) di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Dikutip dari laman alif.id, Tafsir Al-Maraghi memberi dua kemungkinan arti untuk kata khalifah dalam ayat ini:

  1. Pengganti atau penerus dari jenis (makhluk) sebelumnya
  2. Wakil dari Allah dalam menjalankan perintah-perintah-Nya di tengah manusia.

QS Shad: 26:

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”

Dalam fafsir al-Razi yaitu Mafatih al-Ghaib (al-Tafsir al-Kabir) disebutkan, kata khalifah pada ayat ini memiliki dua makna.

  1. “Kami jadikan kamu pengganti atau penerus para nabi terdahulu dalam berdakwah dan mengatur umat manusia.”
  2. “Kami jadikan kamu penguasa atas manusia dan pelaksana hukum di tengah mereka.”

Kedua ayat di atas sering dijadikan rujukan adanya konsep khilafah dalam Al-Quran. Kehadiran khalifah mensyaratkan adanya khilafah.

Kembalinya Kekhalifahan

Laman The Guardian menurunkan ulasan soal khilafah dari Osama Saeed, juru bicara Asosiasi Muslim Inggris, dengan judul artikel “The return of the caliphate” (Kembalinya kekhalifahan). Berikut ini ringkasannya.

Khilafah adalah visi dunia Islam yang dipersatukan kembali sebagaimana masa kejayaah Khilafah Islam. Dunia Barat menilai, salah satu hal “mendasar bagi peradaban kita” adalah oposisi terhadap rekreasi kekhalifahan Islam. Kekhalifahan harus dihapus dari peta.

Lembaga yang mereka serang adalah gagasan tentang kepemimpinan politik bersatu dunia muslim, yang dihancurkan tahun 1924 setelah sekitar 1.350 tahun menguasai dunia.

Menyusul wafatnya Nabi Muhammad, para khalifah ditunjuk untuk memimpin umat Islam. Pada abad-abad berikutnya, pusat dan sifat kekuatan ini bergerak, berakhir di Istanbul.

Dalam periode dinamisnya, kekhalifahan Islam berada di jantung peradaban besar, memimpin dunia dalam sains, filsafat, hukum, matematika, dan astronomi.

Tidak ada keraguan bahwa pada akhirnya akan ada model yang sama untuk negara-negara muslim. Alih-alih presiden atau komisi, mungkin ada apa yang disebut khalifah. Bukan nama-nama, tetapi apa yang dilakukan lembaga.

Tidak ada gunanya membandingkan bentuk politik yang mungkin dilakukan kekhalifahan dengan yang ada di abad-abad lalu. Lembaga-lembaga seperti monarki Inggris atau kepausan telah ada selama berabad-abad, tetapi hari ini memiliki sedikit kemiripan dengan apa yang hilang sebelumnya.

Kekhalifahan yang dipulihkan sepenuhnya kompatibel dengan lembaga yang bertanggung jawab secara demokratis.

Tapi bagaimana dengan masalah syariah?

Menentang itu tampaknya juga salah satu dari raison d’etre dunia barat. Istilah-istilah seperti “syariah” dan “kekhalifahan” memiliki arti penting bagi umat Islam yang sangat berbeda dari konotasi terdistorsi yang sering mereka bawa di barat.

Tujuan hukum Islam, bertentangan dengan kepercayaan populer, bukanlah hukuman mati atau diamputasi bagian tubuh. Ini adalah untuk menciptakan masyarakat yang damai dan adil, dengan cendekiawan Islam selama berabad-abad mengutip tujuan intinya: kebebasan untuk mempraktikkan agama; perlindungan hidup; menjaga kecerdasan; mempertahankan garis keturunan dan hak-hak individu. Ini bisa menjadi dasar bagi RUU hak-hak Islam.

Visi segala bentuk kekhalifahan baru, yang dimiliki oleh umat Islam di seluruh dunia, adalah visi yang jauh. Saat ini, bahkan pembicaraan tentang meruntuhkan hambatan perdagangan dan kebebasan orang di negara-negara Muslim tampaknya radikal.

Tapi itu adalah visi yang diperlukan, dan visi yang harus didukung oleh AS dan Inggris jika mereka tulus tentang perkembangan dunia Muslim. Kebangkitan peradaban Muslim yang kuat akan demi kemajuan seluruh dunia. (PT)

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *