Profil dan Sejarah Kota Bandung

Kota Bandung memiliki banyak julukan, mulai dari kota kembang, kota wisata, hingga kota bersejarah. Berikut ini profil dan sejarah Kota Bandung.

Kota Bandung
Pemandangan Kota Bandung (Foto: Humas Kota Bandung)

PILARTIMES.COM — Kota Bandung adalah ibu kota Provinsi Jawa Barat sekaligus kota metropolitan terbesar di wilayah Jabar.

Kota Bandung memiliki 30 kecamatan dan 151 kelurahan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Kota Bandung mencapai 2,5 juta jiwa pada 2018.

Kota Bandung dikenal di mancanegara sejak menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 18 April 1955 di Gedung Merdeka yang dahulu bernama Concordia.

Wilayah Kota Bandung bagian selatan memiliki permukaan tanah relatif datar, sedangkan di wilayah kota bagian utara berbukit-bukit sehingga merupakan panorama yang indah.

Baca Juga

Keadaan geologis dan tanah yang ada di Kota Bandung dan sekitarnya terbentuk pada zaman Kwartier dan mempunyai lapisan tanah alluvial hasil letusan gunung Takuban Perahu.

Jenis material di bagian Utara umumnya merupakan jenis andosol. Di bagian Selatan serta Timur terdiri atas sebaran jenis alluvial kelabu dengan bahan endapan tanah liat. Di bagian Tengah dan Barat tersebar jenis andosol.

Kota Bandung dikelilingi oleh pegunungan. Hal ini memunculkan dugaan bahwa pada masa lalu Kota Bandung merupakan sebuah telaga atau danau purba.

Legenda Sangkuriang menceritakan bagaimana terbentuknya danau Bandung dan bagaimana terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu, lalu bagaimana pula keringnya danau Bandung sehingga meninggalkan cekungan seperti sekarang ini.

Air dari danau Bandung, menurut legenda tersebut, kering karena mengalir melalui sebuah gua yang bernama Sanghyang Tikoro — gua bawah tanah yang dialiri oleh Sungai Citarum.

Sanghyang Tikorolah diyakini muncul sebuah peradaban yang sangat populer dan terkenal,yakni tempat hidup warga atau suku sunda di Bandung ?

Daerah terakhir sisa-sisa danau Bandung yang menjadi kering adalah Situ Aksan, yang pada tahun 1970-an masih merupakan danau tempat berpariwisata, tetapi saat ini sudah menjadi daerah perumahan untuk permukiman.

Asal-Usul Nama Bandung

Berbagai literatur tentang sejarah Bandung menunjukkan, nama “Bandung” berasal dari kata bendung atau bendungan karena terbendungnya Sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Parahu yang lalu membentuk telaga.

Menurut legenda, nama “Bandung” diambil dari sebuah kendaraan air yang terdiri dari dua perahu yang diikat berdampingan yang disebut “perahu bandung”.

Perahu ini digunakan oleh Bupati Bandung, R.A. Wiranatakusumah II, untuk melayari Citarum dalam mencari tempat kedudukan kabupaten yang baru untuk menggantikan ibu kota yang lama di Dayeuhkolot.

Berdasarkan filosofi Sunda, kata bandung juga berasal dari kalimat nga-bandung-an banda indung. Kalimat sakral dan luhur ini karena mengandung nilai ajaran Sunda.

  • Nga-bandung-an artinya menyaksikan atau bersaksi.
  • Banda adalah segala sesuatu yang berada di alam hidup, yaitu di bumi dan atmosfer, baik makhluk hidup maupun benda mati. Sinonim dari banda adalah harta.
  • Indung berarti ibu atau bumi. Disebut juga sebagai ibu pertiwi tempat banda berada.

Dari bumi semua dilahirkan ke alam hidup sebagai banda. Segala sesuatu yang berada di alam hidup adalah banda indung, yaitu bumi, air, tanah, api, tumbuhan, hewan, manusia, dan segala isi perut bumi.

Jadi kata bandung mempunyai nilai filosofis sebagai alam tempat segala makhluk hidup ataupun benda mati.

Sejarah Kota Bandung

Kota Bandung awalnya merupakan bagian sekaligus ibu kota Kabupaten Bandung.

Kabupaten Bandung dibentuk pada sekitar pertengahan abad ke-17 Masehi. Bupati pertamanya Tumenggung Wiraangunangun yang memerintah hingga 1681.

Semula, Kabupaten Bandung beribu kota di Krapyak (sekarang Dayeuhkolot).

Ketika Kabupaten Bandung dipimpin Bupati ke-6, yakni R.A Wiranatakusumah II (1794-1829) yang dijuluki “Dalem Kaum I”, kekuasaan di Nusantara beralih dari Kompeni ke Pemerintahan Hindia Belanda, dengan gubernur jenderal pertama Herman Willem Daendels (1808-1811).

Untuk kelancaran menjalankan tugasnya di Pulau Jawa, Daendels membangun Jalan Raya Pos (Groote Postweg) dari Anyer di ujung barat Jawa Barat ke Panarukan di ujung timur Jawa timur.

Pembangunan jalan raya itu dilakukan oleh rakyat pribumi di bawah pimpinan bupati daerah masing-masing.

Di daerah Bandung khususnya dan daerah Priangan umumnya, Jalan Raya pos mulai dibangun pertengahan tahun 1808, dengan memperbaiki dan memperlebar jalan yang telah ada.

Di daerah Bandung sekarang, jalan raya itu adalah Jalan Jenderal Sudirman – Jalan Asia Afrika – Jalan A. Yani, berlanjut ke Sumedang dan seterusnya.

Untuk kelancaran pembangunan jalan raya, dan agar pejabat pemerintah kolonial mudah mendatangi kantor bupati, Daendels melalui surat tanggal 25 Mei 1810 meminta Bupati Bandung dan Bupati Parakanmuncang untuk memindahkan ibu kota kabupaten, masing-masing ke daerah Cikapundung dan Andawadak (Tanjungsari), mendekati Jalan Raya Pos.

Jauh sebelum surat itu keluar, Bupati Bandung sudah merencanakan untuk memindahkan ibu kota Kabupaten Bandung, bahkan telah menemukan tempat cukup baik dan strategis. Tempat yang dipilih adalah lahan kosong berupa hutan, terletak di tepi barat Sungai Cikapundung, tepi selatan Jalan Raya Pos yang sedang dibangun (pusat kota Bandung sekarang).

Alasan pemindahan ibu kota itu antara lain Krapyak tidak strategis sebagai ibu kota pemerintahan, karena terletak di sisi selatan daerah Bandung dan sering dilanda banjir saat musim hujan.

Sekitar akhir tahun 1808 atau awal tahun 1809, bupati beserta sejumlah rakyatnya pindah dari Krapyak mendekali lahan bakal ibu kota baru.

Mula-mula bupati tinggal di Cikalintu (daerah Cipaganti), kemudian pindah ke Balubur Hilir, selanjutnya pindah lagi ke Kampur Bogor (Kebon Kawung, pada lahan Gedung Pakuan sekarang).

Kota Bandung dibangun dibangun atas prakarsa Bupati Bandung. Bahkan, pembangunan kota ini langsung dipimpin R.A. Wiranatakusumah II.

Wiranatakusumah II pun disebut sebagai pendiri Kota Bandung.

Kota Bandung diresmikan sebagai ibu kota baru Kabupaten Bandung dengan surat keputusan tanggal 25 September 1810.

Peristiwa ini kemudian diabadikan sebagai Hari Jadi Kota Bandung (HKJB).

Menjadi Ibu Kota Jawa Barat

Kota Bandung secara resmi mendapat status gemeente (kota) dari Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz pada 1 April 1906.

Pada masa perang kemerdekaan, pada 24 Maret 1946, sebagian kota ini dibakar oleh para pejuang kemerdekaan sebagai bagian dalam strategi perang waktu itu.

Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api (BLA) dan diabadikan dalam lagu Halo-Halo Bandung.

Kota Bandung ditetapkan sebagai Ibu Kota Provinsi Jawa Barat berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1950 yang diikuti UU No. 14/1950 tentang pembentukan pemerintah daerah di wilayah Provinsi Jawa Barat.

UU No. 14/1950 menjadi dasar pembentukan Kota Bandung sebagai kota dengan pemerintahan tersendiri –terpisah dari Kabupaten Bandung. Undang-undang ini pula yang menjadi dasar pembentukan kabupaten dan kota lain di lingkungan Provinsi Jawa Barat.

Gedung Sate
Gedung Sate, Kantor Pemerintahan Provinsi Jawa Barat, Jln Diponegoro Kota Bandung.* 

Pemerintahan Kota Bandung

Kota Bandung yang berdiri sejak 1906 sudah dipimpin oleh banyak wali kota. Berikut ini nama-nama Wali Kota Bandung hingga saat ini (2020).

  1. E.A. Maurenbrecher (exofficio) 1906-1907
  2. R.E. Krijboom (exofficio) 1907-1908
  3. J.A. van Der Ent (exofficio) 1909-1910
  4. J.J. Verwijk (exofficio) 1910-1912
  5. C.C.B. van Vlenier dan 1912-1913 B. van Bijveld (exofficio) 1913-1920
  6. B. Coops 1920-1921
  7. S.A. Reitsma 1921-1928
  8. B. Coops 1928-1934
  9. Ir. J.E.A. van Volsogen Kuhr 1934-1936
  10. Mr. J.M. Wesselink 1936-1942
  11. N. Beets 1942-1945
  12. R.A. Atmadinata 1945-1946
  13. R. Siamsurizal
  14. Ir. Ukar Bratakusumah 1946-1949
  15. R. Enoch 1949-1956
  16. R. Priatna Kusumah 1956-1966
  17. R. Didi Jukardi 1966-1968
  18. Hidayat Sukarmadijaya 1968-1971
  19. R. Otje Djundjunan 1971-1976
  20. H.Ucu Junaedi 1976-1978
  21. R. Husein Wangsaatmaja 1978-1983
  22. H. Ateng Wahyudi 1983-1993
  23. Wahyu Hamidjaja 1993-1998
  24. Aa Tarmana 1998-2003
  25. H. Dada Rosada 2003-2008/2008-2013
  26. Ridwan Kamil 2013 – 2018
  27. Oded Muhamad Danial 2018-2023
Balai Kota Bandung
Balai Kota Bandung, Pusat Pemerintahan Kota Bandung (Foto: Humas Bandung)

Landmark Kota Bandung

Setiap kota memiliki identitas kota (landmark). Kota Bandung mempunyai minimal dua identitas kota yang bertaraf internasional, yaitu Gedung Sate dan Kawasan Braga.

Dr.H.P. Berlage (1923), seorang arsitek kenamaan Belanda, menilai Gedung Sate merupakan een groots werk (sebuah karya besar).

Gedung Sate menjadi ikon utama Kota Bandung. Gedung Sate dibangun tahun 1920 – 1924 di Wihelmina Boulevard (sekarang Jalan Diponegoro).

Gedung Sate merupakan karya monumental arsitek Ir. Gerber. Gaya arsitekturnya merupakan perpaduan langgam arsitektur tradisional Indonesia dan teknik konstruksi Barat, sehingga disebut Indo Eropeesche ArchitectuurStijln.

Arsitektur Gedung Sate merupakan perpaduan antara gaya arsitektur Italia dan Moor dari zaman Renaissance dengan gaya arsitektur Hindu dan Islam.

Ornamen berciri tradisional seperti pada candi Hindu terdapat dibagian bawah dinding gedung, sedangkan pada bagian tengahnya ditempatkan menara beratap tumpak seperti meru di Bali, sesuatu yang lazim pada gaya arsitektur Islam.

Ornamen enam tiang dengan bulatan berbetuk mirip tusuk sate ditempatkan pada puncak atap tumpak, sebagai lambing biaya pembangunan Gedung Sate sebesar 6.000.000 Gulden.

Tempo Doeloe gedung ini disebut Gouvernements Bedrijven (GB). Gedung ini kemudian disebut Gedung Sate berdasarkan bentuk ornament pada puncak atap tumpak tersebut.

Gedung Sate sekarang menjadi Kantor Gubernur Jawa Barat.

Gedung Sate Provinsi Jawa Barat
Gedung Sate (Foto: jabarprov.go.id)

Kawasan Braga sudah dikenal para wisatawan asing sejak masa Hindia Belanda dan merupakan salah satu unsur yang menjadikan Kota Bandung menerima julukan Parijs van Java.

Menurut Album Bandoeng Tempo Doeloe, kawasan Braga sempat dijuluki De meest Eropeesche winkelstraat van Indie (Kompleks pertokoan Eropa paling terkemuka di Hindia Belanda).

Alun-alun, Merdika Lio, Balubur, Coblong, Dago, Bumiwangi, dan Maribaya sekarang, pada awal tahun 1800 terhubungkan dengan jalan-jalan setapak ke jalan Braga sekarang jalur lalu-lalang itu berhubungan dengan jalan tradisonal pada masa Kerajaan Pajajaran, yang melintasi Sumedanglarang dan Wanayasa.

Angkutan penumpang dan hasil bumi, khususnya kopi dari Gudang Kopi (Balaikota sekarang), banyak memanfaatkan jalur tersebut.

Alat angkut umum yang dipergunakan pada saat itu adalah pedati, sehingga jalan itu disebut Karrenweg lebih dikenal kemudian dengan nama Pedatiweg (sekarang Jalan Braga).

Asal-usul nama “Braga” masih tidak jelas hingga sekarang. Perubahan nama Pedatiweg menjadi Bragaweg mungkin akibat ketenaran Toneelvereniging Braga yang didirikan di Pedatiweg pada 18 Juni 1882 oleh Asisten Residen Priangan, Pieter Sijthoff.

Kemungkinan lain, nama “Braga” berasal dari kata bahasa Sunda, ngabaraga, yang menurut seorang sastrawan Sunda, M.A. Salmun, berarti “berjalan di sepanjang sungai”.

Letak Pedatiweg memang berdampingan dengan sungai Cikapundung.

Jalan Braga
Jalan Braga Kota Bandung (Foto: Native Indonesia)

Julukan Kota Bandung

Kota Bandung memiliki banyak julukan. Sebutan terpopuler adalah “Kota Kembang” dan “Paris Van Java”.

Julukan Bandung “Kota Kembang” karena keindahan alam Kota Bandung yang dipenuhi pepohonan rindang dan bunga.

Paris van Java artinya Kota Paris dari Jawa. Julukan ini mengartikan Kota Bandung seperti Kota Paris, namun berada di pulau Jawa.

Beberapa sumber menyebutkan, kata Paris Van Java terucap ketika zaman penjajahan Belanda.

Menurut Haryoto Kunto dalam Wajah Bandoeng Tempoe Doeloe, sebutan “Bandoeng Parijs van Java” mulai terkenal sejak tahun 1920-an. Ini dibuktikan dengan saat itu bahwa Bandung mulai membangun perumahan yang bergaya arsitektur Eropa.

Beberapa perumahannya berlokasi di sekitaran Andir, Jl Padjajaran, Jl Riau depan Oranjeplein (Taman Pramuka), Kosambi, Jl Cihapit, dan sekitar Gedung Sate.

Saat itu sering ada pasar malam Jaarbeurs yang menjadi tempat wisata untuk orang Eropa yang tinggal di sekitaran Bandung.
Di pasar malam tersebut biasanya sering terlihat dan terdengar kata “Bandoeng Parijs van Java”.

Ahli sejarah dari Universitas Padjajaran, Prof. Dr. H. Nina Herlina Lubis, memiliki informasi lain. Ia mengatakan, di masa penjajahan Belanda, Jalan Braga merupakan salah satu pusat perekonomian yang terus berkembang.

Beberapa toko pakaian yang ada di Jalan Braga, menjual berbagai macam pakaian yang diimpor dari kota Paris di Prancis. Hal tersebut memberikan efek pada bidang fashion yang menjadikan Bandung sebagai kota fashion dan kiblat mode, seperti di Paris.

Tahun 1920-1925, “Paris van Java” mulai melekat sebagai julukan Kota Bandung, hingga kini. (PT)

Sumber: bandung.go.id, jabarprov.go.id

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *