Sejarah Gedung Sate

Gedung Sate merupakan gedung bersejarah yang menyimpan banyak kisah, bahkan cerita mistis.

Gedung Sate
Gedung Sate (Foto: Humas Pemprov Jabar)

Gedung Sate (Gedong Saté) menjadi headline media dalam sepekan terakhir. Pusat Pemerintahan Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) ini ditutup untuk umum, mulai 30 Juli sampai 14 Agustus 2020.

Hampir semua PNS dan non-PNS di lingkungan Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat, bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) selama dua pekan.

Penyebabnya, sebanyak 40 pegawai yang berkantor di Gedung Sate dinyatakan positif Covid-19, usai tes corona pada Senin, 27 Juli 2020, bertepatan dengan peringatan 100 tahun atau satu abad Gedung Sate.

Gedung Sate menginjak usia satu abad pada 27 Juli 2020. Bangunan heritage yang menjadi ciri khas atau ikon Kota Bandung dan Jabar dibangun sejak 27 Juli 1920.

Baca Juga

Sebelum dikenal dengan sebutan Gedung Sate, gedung ini disebut dengan Gouverments Bedrijven (GB). Dari data Museum Gedung Sate, peletakan pembangunan Gedung Sate dilakukan pada 27 Juli 1920. Tanggal ini kemudian dijadikan tanggal berdirinya Gedung Sate.

Bangunan indah dan bersejarah ini berlokasi di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jawa Barat. Saat ini Gedung Sate difungsikan sebagai pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat dan kantor gubernur.

Ciri Khas Gedung Sate

Gedung Sate memiliki ciri khas berupa ornamen enam tusuk sate (satai) pada menara sentral. Karena ornamen inilai bangunan ini dinamakan Gedung Sate.

Jumlah tusuk sate dalam ornamen tersebut melambangkan 6 juta gulden, yaitu jumlah biaya yang digunakan untuk membangun gedung ini.

Ornamen yang juga disebut ornamen jambu air atau ornamen melati ini terbuat dari batu. Posisi ornamen terletak di atas pintu utama Gedung Sate.

Gedung Sate berdiri di atas lahan seluas 27.990,859 m², luas bangunan 10.877,734 m² terdiri dari Basement 3.039,264 m², Lantai I 4.062,553 m², teras lantai I 212,976 m², Lantai II 3.023,796 m², teras lantai II 212.976 m², menara 121 m², dan teras menara 205,169 m².

Gedung Sate
Gedung Sate

Sejarah Gedung Sate

Dilansir website resmi Pemprov Jabar, pada masa Hindia Belanda, Gedung Sate disebut Gouvernements Bedrijven (GB).

Peletakan batu pertama pembangunan gedung ini dilakukan pada 27 Juli 1920 oleh Johanna Catherina Coops, puteri sulung Wali kota Bandung, B. Coops dan Petronella Roelofsen. Ia mewakili Gubernur Jenderal di Batavia, J.P. Graaf van Limburg Stirum.

Arsitektur bangunan Gedung Sate merupakan hasil perencanaan sebuah tim yang terdiri dari Ir. J. Gerber (arsitek muda lulusan Fakultas Teknik Delft Nederland), Ir. Eh. De Roo, dan Ir. G. Hendriks, serta pihak Gemeente van Bandoeng (kota Bandung).

Tim perancang bangunan Gedung Sate diketuai Kol. Pur. VL. Slors. Pembangunan gedung ini melibatkan 2.000 pekerja, 150 orang di antaranya pemahat atau ahli bongpay pengukir batu nisan dan pengukir kayu berkebangsaan China yang berasal dari Konghu atau Kanton.

Pembangunan Gedung Sate dibantu tukang batu, kuli aduk, dan peladen yang berasal dari penduduk Kampung Sekeloa, Kampung Coblong Dago, Kampung Gandok, dan Kampung Cibarengkok.

Sebelumnya, mereka juga menggarap Gedong Sirap (Kampus ITB) dan Gedong Papak (Balai Kota Bandung).

Pembangunan induk bangunan utama Gouverments Bedrijven, termasuk kantor pusat PTT (Pos, Telepon dan Telegraf) dan Perpustakaan, diselesaikan dalam kurun waktu 4 tahun, tepatnya pada September 1924.

Langgam arsitektur Gedung Sate disebut sebagai gaya hasil eksperimen sang arsitek yang mengarah pada bentuk gaya arsitektur Indo-Eropa.

D. Ruhl dalam buku Bandoeng en haar Hoogvlakte (1952) mengatakan, “Gedung Sate adalah bangunan terindah di Indonesia”.

Ir. H. P. Berlage, sewaktu berkunjung ke Gedung Sate pada April 1923, menyatakan, Gedung Sate adalah suatu karya arsitektur besar yang berhasil memadukan langgam timur dan barat secara harmonis, seperti halnya gaya arsitektur Italia pada masa renaiscance, terutama pada bangunan sayap barat.

Dinding Gedung Sate terbuat dari kepingan batu ukuran besar (1 × 1 × 2 m) yang diambil dari kawasan perbukitan batu di Bandung timur, sekitar Arcamanik, dan Gunung Manglayang.

Fasade (tampak depan) Gedung Sate mengikuti sumbu poros utara-selatan dan sengaja dibangun menghadap Gunung Tangkuban Perahu di sebelah utara.

Gedung Sate (Foto: Humas DPRD Jabar)
Gedung Sate (Foto: Humas DPRD Jabar)

Kisah Gugurnya 7 Pemuda di Gedung Sate

Gedung Sate memiliki banyak cerita. Salah satunya tentang gugurnya tujuh pemuda di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Ketujuh pemuda itu disebutkan gugur pada Senin, 3 Desember 1945, saat berjuang mempertahankan Gedung Sate dari serangan pasukan Gurkha yang ditunggangi tentara Inggris dan Belanda.

Tentara Gurkha merupakan orang-orang dari Nepal yang terkenal akan keberanian dan kekuatan fisiknya dalam berperang menggunakan pisau khas mereka, yaitu kukri.

Akibat dari Perjanjian Damai yang dinamakan Perjanjian Sugauli pada 1816, tentara Gurkha menjadi tentara kontrak yang melayani perusahaan Hindia Timur Britania.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Belanda belum bisa menerima kenyataan terusir dari wilayah jajahannya (Indonesia). Bersama Inggris, Belanda menghimpun kekuatan untuk dapat merebut sejumlah aset, salah satunya Gedung Sate.

Pertempuran pecah pada 3 Desember selama hampir 2 jam yang mengakibatkan gugurnya tujuh orang pemuda. Lima jenazah ditemukan, dua jenazah lagi tidak ditemukan.

Lima orang pemuda yang jasadnya ditemukan pada peristiwa mempertahankan Gedung Sate tersebut bernama Muchtarudin, Suhodo, Susilo, dan dua lagi tidak diketahui namanya.

Dua orang yang tidak ditemukan jenazahnya diyakini bernama Rana dan Rengat.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, sebagai bentuk penghormatan kepada tujuh orang pemuda tersebut, dibuatlah sebuah prasasti pada 31 Agustus 1952.

Awalnya prasasti berbentuk batu itu terletak di halaman belakang Gedung Sate.

Prasasti Tujuh Pemuda Gedung Sate (Foto: Istimewa)
Prasasti Tujuh Pemuda Gedung Sate (Foto: Istimewa)

Pada 3 Desember 1970, prasasti tersebut dipindahkan ke halaman depan Gedung Sate. Posisinya tepat berada sejajar dengan pintu masuk Gedun Sate dengan dikelilingi taman dan air mancur.

Menjadi Pusat Pemerintahan Jawa Barat

Sejak 1980 Gedung Sate dikenal dengan sebutan “Kantor Gubernur” karena menjadi pusat Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Karenanya, gedung ini biasa menjadi lokasi aksi unjuk rasa atau demonstrasi masyarakat Jawa Barat untuk menyuarakan aspirasi.

Sebelumnya, Pemerintahan Provinsi Jawa Barat menempati Gedung Kerta Mukti di Jalan Braga, Kota Bandung.

Ruang kerja gubernur terdapat di lantai II Gedung Sate, bersama ruang kerja Wakil Gubernur, Sekretaris Daerah (Sekda), para asisten, dan biro.

Di bagian timur dan barat Gedung Sate terdapat dua ruang besar yang mengingatkan pada ruang dansa (ball room) yang sering terdapat pada bangunan masyarakat Eropa.

Ruangan ini lebih sering dikenal dengan sebutan Aula Barat dan Aula Timur. Keduanya sering digunakan untuk kegiatan resmi.

Di sekeliling kedua aula ini terdapat ruangan-ruangan yang ditempati beberapa biro dengan stafnya.

Bagian paling atas gedung terdapat lantai yang disebut Menara Gedung Sate. Lantai ini tidak dapat dilihat dari bawah. Untuk menuju ke lantai teratas, disediakan lift atau dengan menaiki tangga kayu.

Taman Gedung Sate

Keindahan Gedung Sate dilengkapi dengan taman di sekelilingnya yang terpelihara dengan baik. Taman ini diminati oleh masyarakat kota Bandung dan para wisatawan.

Taman Gedung Sate sering dijadikan lokasi kegiatan yang bernuansakan kekeluargaan, lokasi shooting video klip musik, lokasi foto keluarga, atau foto diri (selfie), bahkan foto pasangan pengantin.

Khusus hari Minggu, lingkungan halaman Gedung Sate dijadikan pilihan tempat sebagian besar masyarakat untuk bersantai, sekadar duduk-duduk menikmati udara segar kota Bandung, atau berolah raga ringan.

Taman Gedung Sate
Taman Gedung Sate (Suryo Gunanto/Google Map)

Taman Gedung Sate direvitalisasi tahun lalu (2019) untuk menambah kenyamanan dan memperluas area terbuka atau ruang publik. (PT/berbagai sumber).*

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *