Sejumlah Negara Resesi Akibat Corona, Ini Pengertian Resesi

pengertian resesi

PILARTIMES.COM — Sejumlah negara mengalami resesi akibat pandemi Virus Corona (Covid-19). Roda perekonomian macet. Sedikitnya sudah lima negara yang jatuh ke jurang resesi atau kemerosotan.

Terbaru, pemerintah Jerman mengonfirmasi ekonominya mengalami resesi. Pertumbuhan ekonomi Jerman turun minus dua kuartal atau lebih dalam satu tahun.

Jerman juga melaporkan data pengangguran yang stabil di angka 6,4%. Kantor Tenaga Kerja mengatakan, jumlah orang yang keluar dari pekerjaan turun 18.000 menjadi 2.923 juta orang.

Data ini lebih rendah dari pooling Reuters yang menyebutkan tambahan pengangguran hingga 43.000 dan mendorong angka pengangguran menjadi 6,5%.

Baca Juga

Sebelumnya, negara yang dinyatakan mengalami resesi akibat Covid-19 adalah Amerika Serikat (AS), Hong Kong, Singapura, dan Korea Selatan (Korsel).

Pengertian Resesi dan Dampaknya

Secara bahasa, resesi (recession) artinya pemunduran. Menurut Kamus Bahasa, resesi artinya “kelesuan dalam kegiatan dagang, industri, dan sebagainya (seolah-olah terhenti); menurunnya (mundurnya, berkurangnya) kegiatan dagang (industri)” (KBBI).

Dalam ekonomi makro, resesi adalah kondisi ketika produk domestik bruto (GDP) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun.

Resesi dapat mengakibatkan penurunan secara simultan pada seluruh aktivitas ekonomi, seperti lapangan kerja, investasi, dan keuntungan perusahaan.

Resesi sering diasosiasikan dengan turunnya harga-harga (deflasi), atau, kebalikannya, meningkatnya harga-harga secara tajam (inflasi) dalam proses yang dikenal sebagai stagflasi.

Resesi ekonomi yang berlangsung lama disebut depresi ekonomi. Penurunan drastis tingkat ekonomi (biasanya akibat depresi parah, atau akibat hiperinflasi) disebut kebangkrutan ekonomi (economy collapse).

Kolumnis Sidney J. Harris membedakan istilah-istilah atas dengan cara ini: “Sebuah resesi adalah ketika tetanggamu kehilangan pekerjaan; depresi adalah ketika kamu yang kehilangan pekerjaan.”

Melansir The Balance, ada lima indikator ekonomi yang dijadikan acuan suatu negara mengalami resesi:

  1. PDB riil
  2. Pendapatan
  3. Tingkat pengangguran
  4. Manufaktur
  5. Penjualan ritel.

Resesi sebenarnya adalah hal yang biasa dan kerap terjadi dalam sebuah siklus perekonomian, tetapi dampak yang diberikan ketika terjadi resesi cukup buruk.

Negara sekelas Amerika Serikat (AS) saja sudah mengalami puluhan kali resesi. Melansir Investopedia, negara dengan nilai ekonomi terbesar dimuka bumi ini sudah mengalami 33 kali resesi sejak tahun 1854.

Jika dilihat sejak tahun 1980, Negeri Paman Sam mengalami 4 kali resesi, termasuk yang terjadi saat krisis finansial global 2008.

Indonesia: Resesi dan Depresi

Tidak hanya resesi, bahkan saat itu Indonesia bisa dikatakan sudah mengalami depresi akibat PDB yang minus dalam 5 kuartal beruntun. Sepanjang 1998, PDB Indonesia mengalami kontraksi 13,02%.

Di tahun ini, Indonesia berisiko mengalami resesi, tetapi kemungkinan tidak akan separah 1998. Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) dalam rilis terbarunya memprediksi PDB Indonesia akan minus 0,3% di tahun ini.

Data pengangguran, aktivitas manufaktur, serta penjualan ritel Indonesia sudah mengirim sinyal potensi terjadinya resesi.

Pandemi Covid-19 membuat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terjadi di mana-mana. Data Kementerian Ketenagakerjaan RI per 12 Mei, total pekerja yang dirumahkan dan di-PHK sebanyak 1.727.913 orang.

Penjualan ritel atau eceran juga nyungsep. Dalam rilis terbaru Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia, penjualan ritel bulan April 2020 tercatat minus 16,9% YoY. Ini merupakan kontraksi paling dalam sejak Desember 2008.

Hampir seluruh pos penjualan ritel mengalami kontraksi. Pos yang paling dalam kontraksinya adalah penjualan bahan bakar -39% YoY, barang budaya dan rekreasi sebesar -48,5% YoY dan barang lainnya seperti sandang sebesar -68,5% YoY.

Maklum saja, saat PSBB diterapkan masyarakat diminta untuk tetap di rumah, sehingga konsumsi pun menurun drastis. (Sumber: Detik/CNBC/Wikipedia/CNBC).*

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *