Terjangkau oleh Anak, Pemerintah Diminta Naikkan Harga Rokok

Pemerintah Diminta Naikkan Harga Rokok

PILARTIMES.COM, JAKARTA — Dengan dalih masih terjangkau anak-anak, pemerintah diminta menaikkan kembali harga rokok. Harga rokok terbaru naik Januari 2020.

Usul kenaikan harga rokok itu dikemukakan Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS UI) dengan alasan untuk menekan jumlah perokok di kalangan anak-anak.

Menurut Peneliti PKJS UI, Renny Nurhasana, harga rokok yang masih terjangkau merupakan salah satu faktor yang menyebabkan seorang anak merokok.

“Harga rokok itu berhubungan negatif dengan peluang anak merokok, jadi semakin mahal rokok semakin turun prevelansi anak, jadi memang faktor harga ini sangat penting,” kata Renny dalam diskusi daring, Sabtu (5/9/2020).

Renny menuturkan, hasil survei sosial ekonomi nasional menunjukkan harga dan pengaruh teman sebaya merupakan faktor yang mempengaruhi anak untuk merokok.

Dikemukakannya, harga rokok yang dapat diperoleh mulai dari angka Rp20.000 pun masih terjangkau oleh saku anak-anak.

Renny meyakini kenaikan harga rokok dapat menjadi solusi karena berbagai negara lain yang meningkatkan harga rokok sukses menekan jumlah perokok.

“Kita harus tetap persisten dan konsisten, semoga Pemerintah masih bisa menaikkan cukai itu dari Kementerian Keuangan dan sekarang juga di-backup oleh Bapak Presiden kita,” ujar Renny.

Namun, ia mengakui kenaikan harga rokok tersebut tidak bisa dilakukan dalam waktu sekejap.

“Thailand itu membutuhkan 10-20 tahun untuk sampai harga rokok seperti ini sekitar Rp50.000 per bungkus,” ujar Renny.

“Australia butuh totally sampai pengendalian rokok ini sampai 40 tahun sampai harga rokoknya Rp 100.000 per bungkus,” imbuhnya dilansir kompas.com.

Tren Harga Rokok Naik

Sebelumnya, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio N Kacaribu, memastikan tren harga rokok akan semakin mahal. Ini merupakan salah satu cara mencegah anak di bawah umur merokok.

“Harga ini sebenarnya hanya salah satu (cara pencegahan perokok di bawah umur), tetapi paling tidak secara kebijakannya, untuk masalah harga kita pastikan bahwa ini trennya terus semakin mahal,” kata Febrio dalam Webinar Hari Anak Nasional, 27 Juli 2020.

Ia mengatakan, kenaikan harga rokok menjadi salah satu cara pemerintah untuk mencegah munculnya perokok di bawah umur.

Menurut Febrio, sejak 2013 harga rokok cenderung semakin mahal. Ditambah produksinya yang menurun dalam kurun waktu 2013-2018.

Namun, kata dia, pada 2019 suasana perekonomian kurang kondusif untuk menaikkan cukai dan seperti diprediksi, produksi rokok kembali melonjak.

Meski demikian, kecenderungan produksi rokok menurun sejak 2013 hingga saat ini.

“Inilah bukti konsistensi kebijakan pemerintah untuk membuat harga rokok itu semakin relatif mahal supaya anak-anak semakin tidak bisa menjangkau,” ujar dia.

Febrio pun mengingatkan, diperlukan peran orangtua dalam mencegah perokok di bawah umur. Sebab, menurut dia, hal ini juga berkaitan dengan gaya hidup, termasuk penerapan disiplin di keluarga dan teladan orangtua.*

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *