Turki Ubah Hagia Sophia Jadi Masjid, Israel Ubah Masjid Jadi Bar

Masjid Hagia Sophia

PILARTIMES.COM, TURKI — Pemerintah Turki mengubah bangunan bersejarah Hagi Sophia menjadi masjid, sebagaimana pada masa Khilafah Islam Turki Utsmaniyah (Ottoman).

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mendeklarasikan perubahan itu Jumat (10/7/2020), setelah pengadilan tinggi Turki membatalkan status Hagia Sophia sebagai museum sejak 1934.

Hagia Sophia adalah situs warisan dunia Unesco. Bangunan ini pada awalnya merupaka katedral, lalu berubah menjadi masjid, dan sejak 1934 menjadi museum.

Bangunan ini menjadi masjid pada 29 Mei 1453 sampai 1931 pada masa kekuasaan Khilafah Islam Turki Utsmani (Ottoman Turki). Bangunan ini “disekulerkan” dan diubah menjadi museum pada 1 Februari 1934 oleh Republik Turki di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal At-Taturk (1881-1938).

Baca Juga

“Insya Allah, kita akan melakukan shalat Jumat bersama-sama pada 24 Juli dan membuka kembali Hagia Sophia sebagai tempat beribadah,” tegas Erdogan dalam pidato yang disiarkan ke seluruh negeri, Jumat (10/7/2020).

Erdogan juga berjanji akan tetap membuka Hagia Sophia bagi semua orang termasuk warga nonmuslim.

“Seperti semua masjid, pintu Hagia Sophia akan terbuka untuk semua orang, lokal dan warga asing, muslim dan nonmuslin,” tegasnya dilansir Middle East Eye.

Perubahan fungsi Hagia Sophia dari museum menjadi masjid ini mendapatkan reaksi beragam dari seluruh penjuru dunia, mulai dari Yunani hingga Unesco. Turki bergeming karena memang bangunan itu urusan dalam negeri mereka. Bangunan itu milik rakyat Turki.

Namun, dunia juga diingatkan kasus serupa, ketika Israel pada April 2019 mengubah bangunan bersejarah abad 13, Masjid Al Ahmar, menjadi bar atau klab malam.

Masjid Al-Ahmar Palestina
Masjid Al-Ahmar Palestina

 

Masjid Al-Ahmar Palestina
Masjid Al-Ahmar Palestina (Foto: Gulf News)

Ulah Israel ini luput dari perhatian dunia. Padahal, masjid di wilayah Safed itu juga merupakan salah satu bangunan bersejarah milik warga Palestina dari abad ke-13. Masid Al Ahmar, seperti halnya tanah yang menjadi negara Israel, adalah milik bangsa Palestina.

Masjid Al Ahmar dikuasai Israel pada 1948 bersamaan dengan diusirnya 12.000 warga Palestina di Safed oleh pemerintah Israel.

Semula masjid itu diubah menjadi sekolah Yahudi, kemudian menjadi pusat kampanye pemilu Partai Likud pimpinan Perdana Menteri Israel saat ini, Benjamin Netanyahu.

Sebelum menjadi bar, masjid itu juga sempat digunakan sebagai gudang pakaian.

“Saya terkejut ketika saya melihat aspek sabotase di dalam masjid,” kata sekretaris badan abadi Islam Palestina, Khair Tabari, mengatakan kepada surat kabar yang berbasis di London, Al Qodus Al Arab, seperti dilansir Gulf News.

“Masjid Al Ahmar mendapatkan namanya dari batu merahnya. Saat ini, digunakan dalam beberapa cara kecuali sebagai tempat salat bagi umat Islam,” kata sejarawan dan penduduk asli Safad, Mustafa Abbas.

“Umat Islam yang mengunjungi tempat itu menghadapi serangan dari penjajah Yahudi. Masjid ini memiliki nilai sejarah dan arsitektur yang langka karena didirikan oleh Mameluke Sultan Al Daher Baibars (1223-1277 M),” Abbas menambahkan.

Abbasi mengatakan Masjid Al-Ahmar yang dibangun pada tahun 1276 memiliki nilai historis dan arsitektur yang langka.

Selain berubah fungsi, namanya juga turut diubah dari Masjid Al-Ahmad menjadi Khan Al-Ahmad.

Israel memang terus berupaya menghilangkan situs-situs Islam bersejarah Palestina secara sistematis dengan tujuan melenyapkan identitas Palestina, terutama di wilayah-wilayah yang mereka duduki saat ini.

Selain Masjid Al Ahmar, salah satu masjid bersejarah di Safed yakni Masjid Yunani (Greek Mosque) juga mengalami nasib serupa. Israel mengubah fungsi masjid yang dibangun pada 1319 itu menjadi pusat galeri seni dan dilarang digunakan sebagai tempat shalat. (PT)

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *